Expert Mentoring on Class: Mengenal Profesi Project Manager di Dunia IT

Institut Teknologi dan Bisnis PalComTech menyelenggarakan kegiatan Expert Mentoring on Class bertema Mengenal Profesi Project Manager di Dunia IT pada Selasa, 23 Juni 2026, pukul 19.00-20.45 WIB. Kegiatan ini diselenggarakan dalam format hybrid — secara online melalui tautan 201.palcomtech.ac.id dan offline di Ruang 2.1 — serta dikhususkan untuk mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis PalComTech, khususnya kelas Manajemen Proyek Program Studi Sistem Informasi.
Kegiatan ini menghadirkan Iqbal Khairil Putra, Project Manager – Solution & Support di Qiscus, sebagai narasumber utama. Iqbal membawa pengalaman praktis langsung dari industri teknologi, memberikan gambaran nyata kepada mahasiswa tentang apa yang sebenarnya dikerjakan seorang Project Manager (PM), skill apa yang dibutuhkan, dan bagaimana cara memulai karier di bidang ini.
Sebanyak 55 peserta hadir mengikuti sesi ini, didampingi oleh dosen pengampu, Ibu Dini Hari Pertiwi, S.Kom., M.Kom. dan Ibu Meidyan Permata Putri, S.Kom., M.Kom..

Latar Belakang Kegiatan
Di era transformasi digital yang terus berkembang pesat, kemampuan mengelola proyek teknologi menjadi kompetensi yang semakin krusial. Banyak proyek IT gagal bukan karena keterbatasan teknologi, melainkan akibat buruknya manajemen — mulai dari komunikasi yang tidak efektif, ruang lingkup yang tidak terkendali, hingga ketidakmampuan menyeimbangkan tenggat waktu, biaya, dan kualitas. Di sinilah peran seorang Project Manager IT menjadi penentu keberhasilan sebuah proyek.
Melalui program Expert Mentoring on Class, PalComTech menghadirkan praktisi industri langsung ke kelas, mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman kerja nyata yang seringkali tidak dapat sepenuhnya diajarkan melalui buku teks. Kegiatan ini menjadi jembatan antara teori manajemen proyek yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik profesional di dunia IT.

Pokok Materi yang Dibahas
Sesi mentoring berlangsung secara interaktif dan komprehensif, mencakup tujuh pokok bahasan utama:

1. Apa Itu Proyek dan Siapa Project Manager IT
Narasumber membuka dengan membangun pemahaman dasar: proyek adalah usaha sementara dengan awal dan akhir yang jelas, untuk menghasilkan sesuatu yang unik — bukan pekerjaan rutin berulang. PM adalah konduktor orkestra yang tidak memainkan semua alat musik sendiri, tetapi memastikan semua pemain selaras dan musiknya jadi. PM bertugas merencanakan ruang lingkup, mengkoordinasi tim, mengelola risiko, berkomunikasi dengan seluruh stakeholder, dan mengambil keputusan saat ada trade-off.
2. Cara Kerja PM: Triple Constraint dan Siklus Proyek
Peserta diperkenalkan pada konsep Triple Constraint — keseimbangan antara Scope (ruang lingkup), Time (waktu), dan Cost (biaya), dengan Quality (kualitas) di tengahnya. Setiap keputusan PM adalah soal menjaga keseimbangan ketiga hal ini yang saling tarik-menarik. Selain itu, narasumber membahas 5 Fase Siklus Hidup Proyek: Initiation, Planning, Execution, Monitoring, dan Closing — kerangka kerja yang mengacu pada standar PMBOK.

3. Metodologi: Waterfall, Agile, Scrum, dan Kanban
Narasumber membedah dua metodologi utama dalam manajemen proyek IT. Waterfall bersifat berurutan dan bertahap, cocok bila kebutuhan sudah jelas sejak awal. Sementara Agile bersifat iteratif dengan siklus kerja pendek (sprint 1-2 minggu), lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan. Dalam konteks dunia IT hari ini, Agile — khususnya kerangka Scrum — mendominasi praktik industri.

4. Skill, Tools, dan Dokumen PM
Peserta mempelajari dua kelompok kompetensi yang harus dimiliki PM: hard skill seperti perencanaan jadwal, manajemen risiko, dan literasi teknis dasar; serta soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, negosiasi, dan empati — yang justru paling menentukan keberhasilan seorang PM. Narasumber juga memperkenalkan tools populer seperti Jira, Trello, Asana, Notion, serta dokumen-dokumen kunci yang dibuat PM seperti Project Charter, Roadmap, Risk Register, dan Status Report.
5. Ukuran Sukses dan Tantangan Nyata
Keberhasilan PM diukur dari empat KPI utama: on-time (tepat waktu), on-budget (sesuai anggaran), on-scope (sesuai ruang lingkup dan mutu), serta kepuasan stakeholder dan tim. Narasumber juga membahas tantangan nyata di lapangan seperti scope creep (permintaan yang terus bertambah), deadline tidak realistis, benturan prioritas, dan tekanan berlebih pada tim.
6. Peluang Karier dan Cara Memulai
Profesi PM IT dinilai sangat menjanjikan karena dibutuhkan di hampir seluruh industri, dengan jalur karier yang jelas: PM > Senior PM > Program Manager / Portfolio Manager > Head / Director. Mahasiswa didorong untuk mulai membangun pengalaman dari sekarang — dengan menjadi koordinator di proyek kuliah atau organisasi, menggunakan tools manajemen seperti Trello atau Notion, belajar dasar Agile/Scrum secara daring, dan aktif mencari peluang magang sebagai project coordinator atau PM intern.
7. Studi Kasus: Proyek Aplikasi Pesan-Antar Makanan
Sesi ditutup dengan studi kasus konkret yang menyatukan seluruh konsep — dari tahap initiation (memperjelas tujuan, batasan, dan stakeholder), planning (memecah fitur menjadi tugas dan menyusun timeline), execution (menjalankan sprint dan menangani kendala integrasi pihak ketiga yang molor), hingga closing (serah terima, retrospektif, dan dokumentasi pembelajaran).

Dampak Kegiatan
Kegiatan ini memberikan pengalaman pembelajaran kontekstual yang signifikan bagi mahasiswa. Melalui pemaparan narasumber dari dunia industri, peserta memperoleh wawasan bahwa:
• Profesi Project Manager tidak mengharuskan kemampuan ngoding, melainkan menuntut kematangan dalam komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir sistematis.
• Keterampilan manajemen proyek bersifat transferable dan dapat diaplikasikan lintas industri.
• Mahasiswa dapat mulai membangun rekam jejak sebagai PM bahkan sejak di bangku kuliah — melalui kepanitiaan, proyek kelompok, atau organisasi kemahasiswaan.
• Sertifikasi seperti CAPM/PMP (PMI) dan PSM/CSM (Scrum) menjadi bekal yang diakui industri untuk memasuki dunia kerja secara kompetitif.

Dengan menghadirkan perspektif langsung dari praktisi yang aktif di perusahaan teknologi, Expert Mentoring on Class menjadi salah satu bentuk penguatan kurikulum yang menjembatani materi perkuliahan Manajemen Proyek dengan kebutuhan nyata industri IT.

Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs)
Kegiatan Expert Mentoring on Class ini turut berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

SDG 4 – Quality Education (Pendidikan Berkualitas)
Kegiatan ini memperkuat kualitas pendidikan tinggi melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dari praktisi industri. Mahasiswa tidak sekadar menerima konsep manajemen proyek secara teoritis, tetapi juga memperoleh pemahaman mendalam tentang bagaimana siklus proyek, metodologi Agile, manajemen risiko, dan keterampilan komunikasi diterapkan dalam lingkungan kerja yang nyata. Pendekatan ini sejalan dengan visi SDG 4 dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

SDG 8 – Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
Dengan membekali mahasiswa pemahaman tentang profesi Project Manager — salah satu peran strategis yang dibutuhkan di hampir seluruh sektor industri — kegiatan ini secara langsung memperkuat kesiapan kerja (work readiness) generasi muda. Materi tentang jalur karier PM, sertifikasi yang relevan, dan langkah konkret untuk memulai karier memberikan mahasiswa modal nyata untuk memasuki pasar kerja yang produktif dan layak. Hal ini mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang kompeten.

SDG 9 – Industry, Innovation, and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
Project Manager IT adalah tulang punggung keberhasilan proyek-proyek teknologi yang mendorong inovasi dan pembangunan infrastruktur digital. Dengan memahami metodologi seperti Agile dan Scrum, serta penguasaan tools industri, mahasiswa dipersiapkan untuk berkontribusi dalam ekosistem industri yang inovatif. Kegiatan ini menanamkan pemahaman bahwa inovasi teknologi membutuhkan manajer proyek yang andal untuk terwujud menjadi produk atau layanan yang berdampak nyata.

SDG 17 – Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
Kolaborasi antara Institut Teknologi dan Bisnis PalComTech dan Qiscus — perusahaan teknologi yang bergerak di bidang solusi komunikasi pelanggan — merupakan contoh nyata kemitraan strategis antara institusi pendidikan dan industri. Kemitraan ini memperkuat ekosistem pendidikan-industri yang saling menguntungkan: kampus mendapatkan input langsung dari praktisi, sementara industri turut berkontribusi dalam membentuk talenta digital masa depan Indonesia.

Dokumentasi Kegiatan
• Flyer kegiatan Expert Mentoring on Class – Mengenal Profesi Project Manager di Dunia IT.

• Dokumentasi pelaksanaan sesi mentoring secara hybrid (online dan offline di Ruang 2.1).

• Foto bersama peserta, narasumber, dan dosen pendamping dalam kegiatan Expert Mentoring on Class.

Kegiatan Expert Mentoring on Class merupakan bagian dari program unggulan Institut Teknologi dan Bisnis PalComTech dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berdampak nyata — bagi mahasiswa, kampus, dan masyarakat.